Mengenal Belalang sebagai Makanan Sehat Khas Gunungkidul




Mengupas seluk beluk Gunungkidul dengan beragam keunikannya tentu merupakan sebuah topik yang menarik. Sebagai daerah yang memiliki beragam potensi, Gunungkidul menawarkan pengalaman berbeda, yang mungkin tidak Anda temui di daerah-daerah lain, baik dalam hal obyek wisata alam, budaya masyarakat sekitar, maupun potensi produk unggulan daerah, seperti halnya belalang, hama yang menyehatkan.

Jika di belahan bumi lain, belalang dianggap sebagai binatang penganggu, atau bahkan hama bagi tanaman, di Gunungkidul jenis serangga ini justru dijadikan lauk atau camilan gurih yang sangat lezat serta bergizi tinggi. Dalam penelitiannya, Van Huis, seorang professor dari Universitas Wageningen, Belanda mengatakan bahwa serangga termasuk belalang mengandung protein yang lebih tinggi daripada daging sapi, yakni hingga 90 persen protein, sementara daging sapi hanya berkisar 40-70 persen protein. Bahkan seorang doktor di Indonesia pernah mengatakan bahwa kandungan protein belalang mengalahkan udang, susu segar, atau daging ayam. Namun demikian, bagi yang alergi protein, belalang dapat menimbulkan alergi gatal.

Cara memasak serangga inipun cukup mudah. Setelah dihilangkan bulu dan kotorannya, belalang dapat dimasak dengan cara digoreng seperti halnya menggoreng tempe, tentunya dengan bumbu yang sesuai selera. Selain itu, belalang juga dapat dididihkan dulu, atau istilah Jawanya “dibacem,” yaitu direbus dengan bumbu gula merah, garam, ketumbar, salam, dan bawang merah. Setelah bumbu meresap, belalang dapat diangkat untuk selanjutnya digoreng hingga renyah.

Belalang sendiri yang merupakan serangga herbivora dari sub-ordo Caelifera dalam ordo Orthoptera ini banyak dijumpai di beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul, terutama di daerah Kecamatan Playen, Paliyan, dan Semanu. Para pencari belalang umumnya menggunakan lem tikus atau jaring kecil untuk berburu serangga yang sangat lihai terbang ini. Dalam sehari, seorang pemburu bisa memperoleh 500 hingga 1000 ekor belalang yang kadang dijual Rp.100 hingga Rp.200 per ekor, itupun dalam kondisi masih hidup atau mentah. Setelah puas berburu, para pencari belalang ini banyak berjajar di sekitar jalan Playen-Paliyan, Paliyan-Panggang, maupun Wonosari-Semanu untuk menjajakan dagangannya.

Belalang mudah diperoleh pada musim-musim tertentu ketika dedaunan masih hijau mengingat makanan utama serangga ini adalah daun, diantaranya daun jati, kelapa, dan daun jagung. Ketika kemarau, atau khususnya pada musim-musim tertentu, belalang sulit diperoleh dan menjadi sebuah makanan eksklusif yang sangat mahal. Satu toples belalang matang bahkan dipasarkan dengan harga puluhan ribu rupiah. Mau mencoba hama yang menyehatkan ini? Silahkan datang ke Gunungkidul.

Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar