Fenomena Listrik dan Harapanku untuk PLN


Mengulas fenomena listrik di Indonesia, bayanganku kembali ke era tahun 80an, dimana waktu itu aku masih tinggal di daerah yang cukup terpencil di tenggara Kota Yogyakarta. Masa kecil kuhabiskan dengan penuh keceriaan di sebuah desa yang waktu itu belum teraliri listrik. Kala itu, lampu minyak yang sering kusebut “petromax” menjadi satu-satunya penerangan terbaik ketika aku  belajar. 

Tahun demi tahun, berbagai perubahan serta kemajuan kurasakan. Jaringan listrik pun akhirnya sampai juga di desaku, yang mengawali optimisme serta antusiasme baru bagiku sebagai siswa seorang yang harus senantiasa memanfaatkan waktu malam untuk belajar. Cahaya terang petromax itu pun tergantikan dengan pancaran sinar lampu neon 40 watt yang setia menemani saat-saat belajarku. Akhirnya, manfaat listrik pun mulai kurasakan saat itu.

Tidak terasa hampir 20 tahun kutinggalkan desa yang penuh kenangan itu untuk mengadu nasib ke kota besar, sampai akhirnya keadaan memaksaku pulang kembali ke kampung halaman.  Berbagai peralatan listrik pun kubawa pulang dan mulai mengarungi hidup dengan segala keterbatasan fasilitas desa, termasuk tegangan listrik yang naik turun tak terelakkan.

Fenomena Listrik dan Harapanku untuk PLN
Logo PLN
Tidak lama tinggal di desa, aku harus merelakan komputer kesayanganku rusak dan pensiun dini akibat ketidakstabilan tegangan serta seringnya aliran listrik yang putus secara tiba-tiba di rumahku. Tidak hanya komputer, hampir tiap bulan aku harus mengganti lampu penerangan luar rumah 5 watt yang tiba-tiba mati akibat permasalahan seperti itu.

Hingga beberapa waktu yang lalu, aku sedikit gembira melihat kemajuan pelayanan listrik yang kuterima. Kala itu, listrik di rumahku hanya 450 watt sehingga di kala malam, aku harus menentukan prioritas alat listrik yang aku pakai agar tidak kelebihan beban. Pengajuan penambahan daya yang aku kirimkan sedemikian cepat direspon dan ditindaklanjuti. 

Tidak menunggu satu minggu, listrikku pun telah bertambah daya, dan semuanya itu aku raih dengan biaya yang sangat terjangkau. Selain itu, inovasi baru meteran pra bayar yang aku terima setelah penambahan daya tersebut ternyata sangat menguntungkan. Dengan meteran listrik pra bayar tersebut, potensi peluang kesalahan pencatatan pemakaian listrik dapat dihilangkan,  dan pengisian pulsa pun fleksibel, persis seperti isi pulsa handphone.

Dengan segala pernik pengalaman itu, aku pun menyambut baik komitmen Manajemen Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas KKN, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dalam tanggungjawabnya menyediakan tenaga listrik bagi masyarakat. Selain itu, dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional tanggal 27 Oktober 2012 nanti, aku sangat berharap agar PLN dapat terus meningkatkan kinerjanya, dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
  1. Realita tegangan naik turun di wilayah perdesaan masih ada, dan kurasakan setiap kali pulang ke kampung. Untuk itu, kiranya permasalahan ini dapat segera dicarikan solusinya;
  2. Pemadaman listrik yang masih sering terjadi  secara mendadak tanpa sosialisasi yang baik di daerah perdesaan hendaknya dapat diminimalisir;
  3. Penerangan jalan kuharapkan dapat juga dirasakan oleh para penduduk desa yang juga memiliki hak untuk mengakses layanan tersebut;
  4. Ketika melihat tayangan di sejumlah stasiun televisi, masih kulihat ketiadaan aliran listrik di beberapa wilayan di negeri ini. Aku yakin jika mereka juga dapat merasakan manfaat listrik seperti yang kurasakan.
  5. Agar kenaikan tarif tidak terlalu sering dilakukan, pencarian sumber-seumber tenaga alternatif masih perlu digencarkan;
Mungkin itulah beberapa hal yang masih membayangiku sebagai salah satu pelanggan perusahaan negara ini. Aku yakin dengan komitmen serta potensi sumber daya yang dimilikinya, perusahan listrik kebanggaan negeri ini dapat meningkatkan kinerja layanannya di masa-masa mendatang. Bravo PLN, maju terus dan berikan layanan terbaikmu!

Kategori:

3 komentar: